Jumat, Mei 24, 2024
Jumat, Mei 24, 2024

Angka Stunting di Butur Masih Tinggi

IKHTIARNUSANTARA.COM, BURANGA –Angka stunting di Kabupaten Buton Utara (Butur) tahun 2023 sebesar 31,2 persen atau berjumlah 900 orang dari 6000 kelahiran. Sementara secara Nasional angka stunting sebesar 21,6 persen dan target stunting tahun 2024 sebesar 14 persen.

Hal ini disampaikan Kepala Bappeda Butur, Zainal Arifin dalam sambutannya pada rapat evaluasi kinerja OPD teknis dalam upaya menindaklanjuti aksi 8 konvergensi percepatan penurunan stunting di Kantor Bappeda, Selasa, 9 Januari 2024.

“Angka stunting di Kabupaten Buton Utara tahun 2023 sebesar 31,2 persen atau berjumlah 900 orang dari 6000 kelahiran, sementara secara Nasional angka stunting sebesar 21,6 persen dan target stunting tahun 2024 sebesar 14 persen,” ungkap Zainal Arifin dalam sambutannya.

Kordinator tim konvergensi percepatan penurunan stunting Butur ini menuturkan, angka stunting yang masih relatif tinggi di Kabupaten Buton Utara, diperlukan aksi bersama dan langkah konkrit para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) teknis untuk berupaya mempercepat penurunan angka stunting.

“Diperlukan aksi bersama dan langkah konkrit para kepala OPD teknis dalam upaya percepatan penurunan angka stunting dan mengisi indikator kinerja capaian kegiatan untuk disampaikan secara berkala pada Bangda Kemendagri RI,” harapnya.

Diketahui, dari hasil uraian kepala OPD teknis disampaikan kesimpulan sebagai berikut : pertama, pendataan keluarga yang mendapatkan bantuan sosial berkorelasi dengan pendataan angka stunting di Buton Utara.

Kedua, data-data yang ada perlu di up date sehingga saat diintervensi tepat sasaran. Ketiga, tim kerja yang tergabung dalm percepatan penurunan stunting harus bekerja optimal terutama tim pendamping keluarga berisiko stunting.

Keempat, orang mampu terkadang rentang terkena stunting disebabkan pola asuh dalam keluarga. Kelima, ada pendampingan keluarga pasca nikah untuk penurunan angka stunting. Keenam, stuntung itu bukan hanya persoalan keterpenuhan nilai gizi (nutrisi) akan tetapi disebabkan pula ketersediaan air bersih, sanitasi, dan jamban.

Ketujuh, adanya pergeseran pola hidup sering mengkonsumsi makanan instan ketimbang pola makanan sehat. Kedelapan, pemanfaatan pangan secara seimbang kepada ibu hamil dan menyusui. Kedepan, penyuluhan terpadu OPD teknis dalam sosialisasi penurunan stunting.

Kesembilan, pemberdayaan Bunda Paud dan UKS dlm memberikan sosialisasi percepatan penurunan stunting di sekolah. Kesepuluh, penerbitan panduan (buku saku) penurunan angka stunting bekerja sama degan Unicef dan kesebelas, diperlukan program aksi stop stuntung degan melakukan Pendamping Gizi di Puskesmas dan Posyandu di setiap desa/kelurahan. (Rls)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

IKLAN

Berita Terbaru